
SURABAYA | Jejakperistiwa.com – Diduga oknum guru bola basket SMA(Sekolah Menengah Atas) Katolik st.louis 1 surabaya lakukan kekerasan kepada anak didiknya yang masih di bawah umur sampai saat ini masih belum ada tindakan tegas, yang kini menyisahkan trauma pada anak Jumat(09/01/26).
Kejadian bermula dari salah satu oknum guru pelatih basket yang diduga lakukan kekerasan fisik terhadap anak didiknya kejadian tersebut di lakukan pada awal bulan desember kemarin yang di lakukan di arena DBL surabaya yang kini menyisakan luka psikis terhadap para siswa-siswi SMAK favorit di surabaya tersebut.
Dugaan kekerasan terhadap anak yang menyisahkan trauma psikis terhadap anak lembakum indonesia(lembaga bantuan hukum) Indonesia kirim karangan bunga duka cita sebagai bentuk keprihatinan didunia pendidikan di surabaya khususnya di karenakan masih belum ada tindakan tegas atau respon dari sekolah tersebut khususnya kepala sekolah smak st.louis 1 surabaya tersebut yang terkesan seolah melindungi.

Kiriman bunga duka cita tersebut bertuliskan “Turut berduka cita atas kematian bagi keadilan dan nurani ketika sekolah tak lagi menjadi tempat bernaung, pendidikan sedang menjemput ajalnya”, “Turut berduka cita Rip nurani dan integritas hari ini pelatih memukul, besok anak di bungkam seharusnya pendidikan melindungi anak bukan pelaku kekerasan”, “Ruang aman di sekolah telah gugur, keadilan dan etika pengajar mati hari ini anak di pukul esok suaranya di bungkam”,dan sebagainya.
Menurut brilian ardana riswari,S.H MKn mengungkapkan terkait kiriman bunga kami sebagai bentuk keprihatinan dan menyayangkan terkait tindakan salah satu oknum guru olahraga yang mengajar di sekolah menengah atas katolik (SMAK) St.louis di surabaya yang melakukan tindakan kekerasan terhadap anak didiknya yang masih di bawah umur yang kini menyisahkan trauma psikis terhadap anak, yang sekarang masih belum ada tindakan tegas dan respon kepada guru yang bersangkutan.
Kemarin kita juga sudah kirim surat ke sekolah tersebut namun tidak di respon atau balasan dari surat kami padahan kami kirim surat tersebut agar bisa ada penyelesaian agar tidak sampai ke ranah hukum karena bagai manapun guru adalah sebagai pendidik yang bisa di sebut juga pengayom siswa-siswinya memberi contoh yang baik, pahlawan tanpa tanda jasa namun dari pihak sekolah kayaknya tidak ada respon seakan melindungi oknum guru tersebut dan tidak mau tahu akhirnya kami kirim bunga duka cita tersebut.
Menurut saya kiriman bunga tersebut adalah bentuk dari keprihatinan dari lembakum Indonesia atas tindakan yang telah dilakukan salah satu oknum guru tersebut yang telah melakukan tindakan tidak terpuji yang mencoreng dunia pendidikan khususnya di surabaya.
Harapan dengan kiriman bunga ini untuk SMAK St.louis kami agar sekolah dapat segera menindak lanjuti dugaan kekerasan terhadap anak(siswa) yang masih di bawah umur tersebut dengan mengeluarkan guru dari sekolah tersebut dan mendapat tindakan tegas dari dinas terkait”, Tambahnya.(Asmoroqondhi)
